Andong Liburan Idul Adha 1436 H

Andong itu bukan gunung, sebab kata teman mahasiswa kehutanan Muhammadiyah Malang gunung minimal ketinggian 2000 mdpl. Sementara ANdong berketinggian 1726 MDPL. Andong berada di Magelang. Perjalanan dari jogyakarta dengan kecepatan rata-rata 60 dan 70 km, akan memakan waktu 2 jam. Basecamp Andong ada di 3 desa, dan kali ini kami memilih basecamp sawit. Basecamp serta segala fasilitasnya lengkap disini, awal memasuki teritori basecamp, berjajar rumah-rumah beserta halaman nya yang bisa digunakan untuk memarkir kendaraan, saat itu kami konvoi motor.

Biaya parkir satu motor adalah 4000, namun jika karcis parkir hilang-maka akibatnya adalah kita harus memperlihatkan STNK dan ngebayar lagi 5000 (So…, abis lo nerima karcis, harap langsung simpen ditempat aman). Sementara itu biaya registrasi perorang 4000. Pembayaran karcis ini sudah include parkir, transit basecamp, kamar mandi, dan tempat makan. Yaps, konsep basecamp disini masih baik, sebab masyarakat disekitar kaki bukitlah yang menjadi pelaku pariwisata, bukan kapitalis besar yang serakah. Lumayan ngebantu perekonomian lokal.

Malam itu kami tiba pukul 12 malam di basecamp, setelah ber-istirahat sebentar, pukul 1 malam kamu mulai naik. Tengah malam membuat semuanya menjadi gelap, kecuali bulan yang hampir purnama dan sedikit bintang yang kalah terang. Semakin lama kami menanjak, saya tidak bisa berpura-pura kuat, “istirahatlah sebentar” ujar saya, “lihat-lihat pemandangan dulu-lah”.., haha ini hanya manipulasi (malu minta istirahat pertama). Sial, kali ini saya naik dengan para laki-laki kuat, lagipula saya sudah lama tidak ber-olahraga. Menggos-menggoslah. Untungnya tidak lama berjalan kira-kira jarak 15 menit kita akan menemukan “berugak” lumayan buat rebahan sambil narik napas. Selanjutnya trus saja menanjak sambil bernyanyi terputus-putus. Lalala-hosh-hosh.

Setelah 30 menit berjalan, rasanya nafas sudah bisa menyesuaikan, sehingga saya tak lagi menjadi yang pertama minta istirahat. Eits… sejaman lebih-lebih dikit kemudian tetiba saja kami telah tiba di salah satu deretan puncak bukit andong, “iyakkkk kok udah nyampe aja ya“. Saya kira akan 2 jam gitu, karna tadi pake istirahat. Sebab normalnya kata orang-orang andong itu naiknya 1,5 jam.

U know whattt, abis itu kita liat itu puncak-puncak bukit udah rame aja…, hiks. Padahal tadi kata mas-mas di basecamp, ini endak rame kok mbak, paling Cuma 150 aja, biasanya 800 orang kalau malam minggu. Gile…, kayak gimana tuh. Ahhhh hari gini emang susah cari gunung atau bukit sepi, dikamar aja kali ya.

Di salah satu perbukitan andong ada bangunan yang entah apa, dalam pikiran kami pertama kali saat melihatnya, “yaelah bikin rumah jauh amat“…., eits ternyata itu adalah kuburan salah satu murid Sunan Kalijaga, dan disarankan untuk tidak ngecamp disana, ataupun jika iya maka jangan bertingkah tidak baik, sebab menurut pemuda sekitar, pernah ada pendaki yang kesurupan. Iyesh, dan kalian tau.., andong bukanlah nama yang diambil dari alat transportasi tradisional, tapi andong adalah nama pohon yang dulu banyak tumbuh di bukit tersebut.

Yaps…, demikianlah kisahnya. Dan semoga banyak lagi alam yang bisa di explorasi dengan konsep agrowisata, pariwisata berbasis kearifan lingkungan.

Buang sampah sembarangan itu, enggak keren!

Udah gitu aja.

Advertisements

Tentang Perbatasan

Pengelolaan perbatasan Indonesia.

Kali ini saya mendapat rejeki ilmu, yaitu diundang hadir dalam sebuah seminar menarik dengan judul “ Pengelolaan Perbatasan di Indonesia”, Seminar ini diadakan untuk menampung sebanyak-banyaknya masukan terhadap rancangan penelitian yang akan diadakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bidang sosial. LIPI ber-prinsip bahwa penelitian-penelian inilah bentuk kontribusi kita kepada bangsa kita.

Moderator Dr.Cahyo Pamungkas.

Presenter: Dr.Ganewati Wuryandari,MA

Pembahas :Bapak Joe hermansyah johan M.A. dan Bapak Rizal Dharmaputra,

Pemahaman awal yang disampaikan, bahwa perbatasan bukan lagi belakang rumah, tapi ialah beranda depan rumah yang harus segera diperbaiki untuk menjadi lebih baik, agar layak ditinggali dan menyambut tamu.

Bahwa studi ini adalah lanjutan, ada banyak kesimpulan mengenai perbatasan sebelumnya yang diemukan oleh LIPI. Bahwa perbatasan masih menjadi daerah tertinggal dengan segala kriterianya yang miris. Saat presentasi ini dilakukan, muncul pertanyaan dalam otak penulis “Jadi apa sih selanjutnya… Apa relevansi nyata yang terjadi terhadap masyarakat perbatasan setelah penelitian usai. Informasi dikuras banyak dari mereka. “Hingga ada paradox yang sering disampaikan oleh masyarakat perbatasan –Presiden sudah datang kemari, menteri sudah, gubernur sudah, kami masih saja tetap miskin, barangkali cuma tinggal malaikat maut saja yang belum kemari”. Pernyataan yang sangat menyentil pemerintah baik pusat dan daerah. Apakah programmu selama ini hanya Lip service, dan kami tetap saja bgini, susah! Jadi apakah masyarakat perbatasan ini hanya menjadi kelinci percobaan, demi menemukan teori ataupun menyelesaikan proyek penelitian, yang cukup selesai menjadi sebuah buku yang mungkin klimaksnya akan menambah khazanah ilmu pengetahuan di Indonesia, sementara mereka disana tetap saja lapar dan miskin. Ishhh

Nah ternyata setelah mendengar dengan seksama, bahwa memang sudah banyak peneliatan yang dilakukan di perbatasan, maka yang membuat penelitian kali ini berbeda adalah penelitian ini akan menjadi studi muara atas seluruh riset sebelumnya, kemudian mereformulasi, dan selanjutnya keluaran nya adalah memberikan solusi ke pemerintah. Bagaimana sebaiknya mengelola perbatasan dalam bentuk Naskah Akademik. Dan semoga hasil penelitian kali ini benar-benar bermanfaat secara nyata kepada masyarakat perbatasan.

Diakui berdasarkan pengalaman bahwa mengelola perbatasan sangat rumit. Dimana Indonesia negara kepulauan yang tidak semua mudah di akses. Ada banyak proyek yang tumpang tindih, seperti di daerah Belu, gerbang perbatasan di bangun oleh PU, seminggu kemudian diruntuhkan dan di bangun lagi oleh KeMenDagRI, pembagian zonasi oleh lembaga belum rapi.

Bangsaku Bangsa Besar, Butuh Tenaga Besar untuk Membenarkannya.

WP_20140812_005

Cerita Bergambar 1436H

Ini tentang Libur Lebaran 1436H

Semua dimulai dari sini, H+2 Lebaran kurang-lebih pukul 07.00 WIB, kami sudah tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta. Menanti kereta ekonomi yang akan membawa kami menuju bagian timur pulau jawa.

DCIM100MEDIA

DCIM100MEDIA

6 jam kemudian tibalah kami disini stasiun Blitar, menanti jemputan 2 pemuda harapan bangsa,

DCIM100MEDIA

DCIM100MEDIA

eits…., akhirnya sore ini kami tutupkan dengan foto bersama para pupala raya cabang Blitar yang nge-basecamp di sebuah kota kecil terbersih, wlingi namanya.

DCIM100MEDIA

DCIM100MEDIA

Pagi selanjutnya, kami tiba di puncak Vanderman 2000 mdpl yang berlatarkan G.Arjuno

DCIM100MEDIA

DCIM100MEDIA

Pagi Selanjutnya kami menikmati sunrise ditengah rimbunan manusia di puncak penanjakan bogor. Baiklah kali ini sunrise tidak menjadi target kami, tapi lanscape bromo beserta lautan pasir dan sekitarnya yang menjadi tujuan kami.

DCIM100MEDIA

DCIM100MEDIA

Dan akhirnya kan perjalanan 4 hari ini berakhir disini…

DCIM100MEDIA

DCIM100MEDIA

Saatnya kembali, dan bersemangat lagi bekerja. Sebab katanya bekerja itu adalah ibadah 🙂

Trimakasih libur lebaran, kami pasti merindukanmu.

(Book Resume) Menjaga Jiwa di Rimba Mentawai

Dan mari kita memulai membuat sebuah resume mengenai buku-buku yang saya baca, sebab kan hanya sayang saja ketika membaca buku selesai, lalu tak ada yang membacanya lagi. Biarlah buku-buku ini bertebaran di muka bumi, tapi jangan lupa kembali ya nak…

Buku kali ini adalah buku laporan etnografi oleh seorang antropolog Belanda “Reimar Schefold” selama 2 tahun sejak 1967.

Cerita dimulai dengan….. -Setelah pencarian cukup lama, tanpa disangka Reimar mendapat info dari seorang suster yang telah bertahun-tahun tinggal di negeri tropis pulau Nias sebelah barat pulau Sumatra, yang mengatakan bahwa di wilayah itu sudah tak ditemukan lagi orang-orang yang tidak beragama. Namun di Siberut lebih selatan dari kepulauan Mentawai, ditempatkan penginjil yang mengatakan bahwa sejumlah suku pribumi di pedalaman pulau tersebut mempertahankan diri dari setiap orang asing yang mendekat dengan panah dan busur.

Berangkatlah Reimar…., selama 2 tahun ia berada disana, untuk mengamati, bertanya, lalu menuliskan apapun yang ia lihat.

Dialog pertama yang terjadi dalam buku ini, yaitu saat juru mudi kapal kecil pengangkut kopra berkata , “Mereka liar, Mengapa kau tak tinggal saja bersama kami?, Disana mereka tak tahu apa-apa tentang kemajuan, disini jauh lebih baik untukmu”. “Ah, aku tak perlu datang jauh-jauh dari Eropa untuk itu!” Ujar Reimar. Aih…, memang aneh ketertarikan peneliti, sukanya nyari-nyari yang tidak nyaman. Cari masalah memang…. Ckck

Selanjutnya ada banyak yang terjadi, teman-teman baca sendiri saja ya, namun ada satu fakta ter-ungkap yang terjadi pada masa itu. Begini uraian-nya “Belum terlalu lama berselang, pejabat utama pemerintah di Muara Siberut bercerita dengan rasa bangga bahwa langkah menuju kemajuan baru dilakukan dengan sebuah ordonansi di tahun-tahun pertama masa kepemimpinan presiden Soekarno. Dengan adanya itu maka kepercayaan mentawai, budaya tato, menajamkan gigi depan, rambut panjang, serta hiasan-hiasan pada laki-laki dilarang, termasuk juga tinggal di dalam rumah-rumah komunal berukuran besar serta hal-hal lainnya yang mengandung budaya tradisional. Itu semua dianggap primitive dan terbelakang serta tak patut bagi sebuah bangsa modern. Semua orang harus “dididik” agar bisa tinggal berdampingan di dalam desa-desa yang jelas dan bersih, dengan gereja atau masjid di dalamnya. Setelah aturan-aturan ini dinyatakan dimana-mana, polisi kemudian memberikan waktu berpikir beberapa minggu lamanya kepada orang-orang Mentawai. Kemudian mereka memasuki pemukiman-pemukiman tradisional, membakar semua benda-benda relijius dan menghukum orang-orang yang tidak mau menyesuaikan diri dan belum memilih agama modern. Cawat laki-laki dan payudara perempuan yang tak tertutup dianggap tak senonoh…, Namun Sakuddei bukan salah satu dari suku yang berhasil ditaklukkan, mereka melawan dan berdiam di hulu. Polisi tidak berani dan sulit untuk masuk.

Ternyata anarkis sekali ya masa itu, benar-benar di bumi hanguskan keberadaan masyarakat adat. Sekarang memang lebih soft, pemerintah telah mengakui keberadaan masyarakat adat, hanya saja belum sempurna. Kekinian bahkan sejak lama konflik yang sering muncul dan masih saja terus terjadi, adalah konflik lahan dan sumber daya alam. Dimana masyarakat adat yang tinggal di dalam hutan rimba, dan meyakini memiliki wilayah tersebut turun-temurun dari leluhurnya, harus dihadapkan dengan masuknya investor-investor yang meng-exploitasi alam dengan berbekal ijin dari pemerintah. Aih…., masyarakat adat yang menganggap hutan adalah ibunya dan menjaganya dengan banyak nilai-nilai mitos harus berhadapan dengan penguasa dan pengusaha serakah.

Tapi masih ada banyak fakta lain gaes…, di buku inipun mengangkat mengenai masyarakat adat kekinian, semua tak lagi sama, ada banyak yang berubah namun masih ada yang dipertahankan. Salah satu yang berubah dan membuat miris adalah saat adat disetting hanya demi komoditas pariwisata sebagaimana diungkap oleh Margaret Mead, bahwa di Sumatera sederet panjang pemandu wisata Melayu telah siap siaga menyatakan siap melayani kontak-kontak eksklusif dengan penduduk pribumi dan menjanjikan sebuah pengalaman eksotis yang berbeda bagi para pelancong. Salah seorang mahasiswaku dari Belanda bersembunyi di uma-uma tua itu dan diam-diam mengamati efeknya terhadap para pelancong itu. Penduduk sangat paham benar akan apa yang diharapkan para pelancong dari mereka dan ikut bermain dalam keuntungan financial. Begitu seorang pemandu wisata mengumumkan kedatangan sebuah rombongan turis, mereka langsung menyembunyikan semua pakaian dan radio transitor mereka dan mengenakan cawat tua. Bila para tamu sudah berpamitan, jejak-jejak tamu-tamu itu kemudian dengan seksama dihilangkan agar tidak merenggut ilusi kelompok turis berikutnya yang mengira bahwa mereka sudah tiba di sebuah uma yang nyaris sama sekali tidak bersentuhan dengan dunia modern.

Aih…., so…, jadilah aktivis masyarakat adat yang bijak, arif, dan obyektif. Jangan terlalu menggebu dengan romantisme kesakralan adat, yang mungkin saja saat ini sudah tak lagi sama dengan dulu.

So gaes…, buku ini recommended untuk dibaca, jika ingin mengentahui mengenai keseharian hidup masyarakat adat sakuddei, sejak orde lama- hingga kekinian dengan kembalinya reimar di tahun 2002.

“Masyarakat itu dinamis, tidak statis”. Begitulah hidup…. 
Bagi yang berminat, monggo dipinjam. Pm gan. Selamat membaca.., dan masuk ke masa lalu yang rimba 

“Kau dan aku sekarang yang tertua, ke manapun kita pergi. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi dan bagaimana jadinya kami di masa yang akan datang. Ketika itu barangkali anak-anak kita sudah beranjak dewasa. Tapi apa-pun yang terjadi, di sinilah rumah.”_ Tengatiti.

DSC00253

Sori gaes, blm punya foto bukunya :), kapan2 mnyusul

Sebab Hati tak pernah bisa di-setting, cintailah-maka tetiba cinta hadir tanpa diminta.

Betapa menyebalkannya ketika cinta menghinggapi hati perempuan terlebih dahulu terhadap sang adam yang entah menepuk sebelah tangan atau saling bertepuk.

Segala sesuatu menjadi lumrah, menjadi benar dan tidak benar disebabkan dari kesepakatan sosial dominan masyarakat yang sebenarnya tiada berwenang, karna hanya DIA yang Mutlak benar.

Saat laki-laki mencintai, menjadi benar saat ia meng-ikhtiarkan nya secara nyata, baik dalam tataran teknis ataupun samar disetiap doa. Baiklah untuk doa, semua manusia apapun jenis dan rupa berhak tanpa kecuali, tapi tidak untuk teknis! Perempuan hanya bisa mencinta diam-diam kecuali dia siap membentur lumrah yang selama ini di-imani. Perempuan mulia adalah mereka yang diminta, yang tenang saja menanti, itu ideal nya. Tapi bagaimana saat cinta lebih dulu merasuki kita daripada si laki-laki. Saat ikhtiar teknis itu dilakukan, maka terjadilah ketabuan, yang bisa saja dianggap agresif, dan untuk perempuan yang seharusnya malu-malu itu sungguh istilah yang menyakitkan.

Ah cinta…, bolehkan aku menguasahakanmu, sebab doa adalah sepaket dengan ikhtiar. Aku hanya takut, saat aku tidak bergerak maju, dia tak akan pernah tau bahwa aku suka. Ah…, aku takut kalah sebelum berperang.

Perempuan…., jatuh cintamu itu menyedihkan. Dan tak ber-apa daya. Ah perempuan…..

Ini pilihanmu, masa depanmu kau yang usahakan. Beranikah kau mengambil sikap bagai khadijah yang mengutus sahabatnya untuk meminta Rasulullah. Jika kau sanggup, maka lakukanlah…, sebab Allah pun tak membedakan kecuali takwa.

Gatsu, 28 Juni 2015

Untukmu perempuan yang tertawan cinta yang entah bagaimana menyelesaikan nya :). Yang tabah y…., semoga Allah segera melimpahkan jawaban serta melapangkan hati- apapun itu.

IMG_6470

Ini tentang adat (Part 1)

Adat dalam Politik Indonesia

Membaca buku ini benar-benar mendebarkan. Rasanya setiap kalimatnya adalah isi, bahkan tiap katanya benar-benar kata bersambung tanpa jeda yang tidak boleh dilewatkan satupun. Terlalu banyak ilmu di dalamnya, Hingga tiap lima belas menit membacanya, tiba-tiba pandangan saya menjadi blur.., hilang sesaat, kemudian kembali tersadar untuk berkonsentrasi membacanya. Dan tiap satu halamannya rasanya bisa menimbulkan lebih dari 5 pertanyaan serta hipotesa, yang mungkin jika didalami akan memunculkan lima artikel anakan. Aih….

Buku ini keren sekali. Ada banyak statemen-statement yang tiba-tiba menampar pemahaman yang selama ini mendengkot di otak saya. Ya…, pemahaman cetek yang tidak pernah berkembang. Saya dengan membabi buta mematrikan dalam hati, bahwa masyarakat adat adalah kumpulan orang-orang bersih yang pasti jikalau menghasilkan hukum, adalah produk tanpa kepentingan. Betapa saya memuja kearifan lokal yang saya anggap seperti titisan tuhan yang tidak perlu lagi ditafsirkan karna kesuciannya.

Tapi apa daya…, buku ini benar-benar mengikis itu semua, dan ada banyak hal yang perlu saya ketahui lebih dalam. Aih…, benar-benar minimalis sekali ilmu saya ini. Dan akhirnya kan perjalanan untuk menjadi seorang pakar yang bisa mengeluarkan statement bijaksana itu masih panjang- panjangggg sekali, dan pastinya butuh tetesan keringat dan air mata, sebab diam membaca buku dengan tekun dalam waktu lama itu tidak mudah boi.., apalagi buku berat macam begini (hiks, 400 lembar) pengen dibuat jadi alas bantal aja, tapi kok ilmu di dalem nya manteb banget…

Baiklah…, saatnya berkorban untuk menjadi pintar. Amin.

Jadi buku ini berjudul di Bab 1 ini membahas mengenai Konservatisme radikal-Aneka wajah radikal adat, ditulis oleh David Henley dan Jamie Davidson, dengan jumlah 55 halaman.

Paragraf pertama dibuka dengan pernyataan bahwa istilah adat dalam bahasa Indonesia memiliki arti ‘kebiasaan’ atau ‘tradisi’, dan mengandung konotasi tata tertib yang tenteram dan konsensus. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, istilah ini sera-merta menjadi memiliki arti yang diasosiasikan dengan aktivisme, protes, dan konflik yang disertai kekerasan. Menurut David H dan Jamie D hal ini terjadi sejak turun-nya orde baru, berbagai komunitas dan kelompok etnis di Indonesia, secara terang-terangan, lantang, dan kadang-kadang dengan kekerasan, menuntut haknya untuk melaksanakan unsur-unsur adat atau hukum adatnya. Ada beberapa contoh kasus yang dipaparkan oleh penulis, antara lain:

  • Atas nama adat, penduduk desa di Bali menolak proyek-proyek pembangunan pariwisata skala besar, dan dalam atmosfir meningkatnya xenophobia, telah menghidupkan kembali aturan-aturan adat yang melarang penjualan tanah kepada orang luar dan menolak proyek-proyek pembangunan pariwisata skala besar dan dalam atmosfir meningkatnya xenophobia, telah menghidupkan kembali aturan-aturan adat yang melarang penjualan tanah kepada orang luar dan menolak siapapun yang tidak melibatkan diri dalam kehidupan keagamaan Hindu untuk bertempat tinggal dalam kampung mereka.
  • Atas nama adat, kebangkitan politik dan budaya di kalangan masyarakat Dayak Kalimantan Barat yang lama terpinggirkan telah melahirkan sebuah gerakan pemberdayaan diri dan membawa kepada kekerasan massa terhadap kaum pendatang di provinsi tersebut.
  • Atas nama adat, para petani gurem di Sulawesi dan Flores telah menantang legitimasi batas-batas taman nasional, sementara kaum elite lokal membajak potensi adat yang semakin menguat demi keuntungan pribadi.
  • Atas nama adat pula, kesultanan-kesultanan yang telah lama tertidur dari Sumatra sampai Maluku mendadak menggeliat bangun kembali.
  • Juga mengatasnamakan adat, para aktivis di daerah ataupun Jakarta menjalin kekuatan bersama untuk membentuk Aliansi Masayarakat Adat Nusantara.

Setelah itu, penulis mengajak berfikir mengenai kebangkitan kembali adat, dimana menurut penulis, adat yang bangkit ini tidaklah sama dengan adat menurut Peluso dan Vandergeest 2001 yang menyatakan adat adalah temuan dan temuan kolonial. Mengapa begitu? Sebab menurut penulis yang mengutip Hobsbawn dan Ranger 1983, bahwa hak-hak adat yang diadvokasikan oleh gerakan masyarakat adat sekarang ini adalah bukan tradisi-tradisi temuan. Hal ini terlihat salah satunya terkait dengan hak atas tanah, yang ternyata menjadi pokok persoalan kebangkitan adat, kontinuitas antara klaim-klaim masa kini dengan praktik-praktik masa silam seringkala nyata. Hal ini dikuatkan pula oleh Adriani dan kruyt 1950-1,III:24;Barton 1949:32) bahwa sebelum kolonialisme, banyak komunitas dan kesatuan politik lokal sudah menetapkan batasan, mengelola, dan mempertahankan wilayah-wilayah komunal yang jelas. Maka paragraph ini adalah tentang tradisionalisme, yang bukan ditemukan atau dibuat oleh penjajah, namun ia telah ada sebelum semua itu ada, dan hingga kini masih ada.

Nah yang menjadi masalah adalah, saat adat itu menjadi konsensus yang tidak terkodifikasikan, maka dibelakang hari ternyata menimbulkan banyak kerentanan. Kondisinya adalah, kaum pendukung kebangkitan adat sebagai jalan untuk mendapat pemulihan atas ketidakadilan yang terjadi. Di satu sisi tidak diragukan bahwa upaya kebnagkitan adat dalam banyak cara merupakan suatu tindakan penguatan atau pemberdayaan. Selain mendukung klaim-klaim lokal atas tanah dan sumber daya yang telah diambil alih oleh negara belakangan ini, adat juga dimanfaatkan untuk mengatasi system legal formal Indonesia yang sangat korup dan tidak efektif, serta untuk mempromosikan bentuk pemerintahan desa yang lebih demokratis. Namun kemudian disis lain ada bahaya yang membarengi hal ini, antara lain:

Sebagaimana dipaparkan oleh penulis, yang saya point kan sebagai berikut:

  1. Ada indikasi bahwa manifestasi politik dari adat mencerminkan manipulasi sinikal terhadap tradisi oleh para aktor yang mencari kepentingan diri sendiri. Bahkan para aktivis adat mengakui bahwa dalam berbagai konteks modern adat tidak menunjukkan rujukan pada sebuah bentuk kerangka peraturan dan praktik-praktik warisan masa silam yang konkret, ataupun pada sebuah wacana yang koheren tentang sejarah, tanah, dan hukum. Melainkan lebih pada seperangkat cita-cita yang saling kait mengkait secara longgar yang entah dengan cara yang benar atau salah, diasosiasikan dengan masa lampau. Untuk mengejar tujuan-tujuan yang merentang mulai dari penguasaan atas sumber daya dan penyingkiran kelompok pesaing sampai kepada perlindungan, pemberdayaan, atau mobilisasi kelompok kurang beruntung-semuanya atas nama adat.
  2. Hal ini merupakan sebuah pilihan yang daripadanya jutaan orang Indonesia, termasuk kaum migrant pedesaan maupun penduduk perkotaan akan secara efektif tersingkir. Disana-sini adat telah menjadi sebuah prinsip dan alasan yang menjadi dasar bagi pengucilan etnis dan juga alasan pembenar atau justifikasi atas kekerasan etnis.
  1. menyangkut implikasi-implikasi politis dari adat bagi komunitas-komunitas adat itu sendiri. Seberapa jauh sebuah komunitas yang diurus dengan menggunakan tradisi dapat dikatakan (masih) hidup di Indonesia, dan sejauh mana mereka yang berbicara atas nama komunitas adat ini sungguh mewakili warga komunitasnya!!!

Hukum adat yang informal, dan tidak terkodifikasi membuatnya menjadi rentan terhadap manipulasi politik, sebagaimana rentan nya idealisasi terhadap manipulasi politik. Maka, tidak mengherankan jika gerakan berbasis adat sering pula tampak seperti berubah menjadi sekedar tunggangan demi mengejar atau mempertahankann kekuasaan dan kemakmuran pribadi,

Kemudian fenomena pasca orde baru yang juga disorot oleh penulis, bahwa terjadi pergeseran kepentingan hak, dengan munculnya sebuah triad atau tiga serangkai hak-hak kewargaan pascanasional, yaitu hak ekologis, hak budaya, dan hak-hak yang sudah ada sebelum kedatangan kolonialisme. Dimana pada masa modernisme hak-hak yang utama dari warga adalah hak-hak warga, hak suara, atau hak memilih, dan hak-hak atas kesejahteraan. Sekarang hak-hak ini menjadi kurang penting dalam pandangan banyak orang, dbandingkan dengan hak atas sebuah lingkungan hidup yang aman, hak atas akses kepada tanah-tanah leluhur, dan hak atas warisan budaya, dan identitas asli.

Jadi ada banyak hal yang muncul dari buku ini. Bahwa tidak selamanya adat yang diperjuangkan kini, benar-benar adat masa lampau. Segala hal kini telah ditunggangi oleh politik, dan kita tidak pernah tau siapa yang berkepentingan dibalik ini semua. Jadi pertanyaan nya sekarang adalah, hukum adat yang mana yang akan saya perjuangkan? Lalu untuk apa semua ini? Maka untuk menjawab semua itu, saya akan membuat sebuah makalah yang berjudul “Adat Setelah Orde Baru”.

Foto-SOKOLA-3re

Berpenghasilannn, Aye !!!

Saya ini mungkin termasuk sosok naïf yang menutup mata dari uang. Tidak tau mengapa, betapa tidak tertariknya saya untuk mencari uang. Bahkan saat-pun tiba waktunya masuk dunia bekerja, rasa-rasanya bukan uang yang menjadi tujuan, tapi kebermanfaatan pada orang lain sepertinya yang lebih menghidupkan gemuruh di hati ini untuk lelah-lelah berkeringat.

Tapi apa mau dikata, jaman semakin maju. Mau tidak mau segala hal kan harus dhargai dengan uang. Sederhana saja, saya dan suami adalah pasangan LDR. Jika kami ingin bertemu, tidak bisa lagi kan tiba-tiba suami saya dengan bersimbah keringat mengayuh sepeda andalannya menemui saya di Jakarta. Kami sudah tidak muda dan se-sporadis itu. Kini kami telah berkeluarga dan ada banyak hal di depan yang harus disiapkan sejak sekarang, bahkan seharusnya dulu (tapi dulu saya belum merasa butuh uang). Bertemu harus ada ongkos kereta, sangu dijalan, bahkan parkir motor yang harus dibayar. Jadi memang apapun itu, kini butuh uang.

Akhirnya yasudahlah, mau tidak mau, saya harus mulai belajar untuk bersemangat mencari uang.

Dan akhirnya kan saya merasakan nya juga, di Jumat Barokah tepatnya tanggal 24 April 2015. Siang setelah para lelaki menunaikan solat Jum’at. Saya disapa oleh mas kosim bagian keuangan kantor. Udah dapet sms belum? tanya dia, sms apa mas? gaji kalian sudah masuk rekening. Hah…, tetiba saja rasanya begitu buncah. Oh god…, akhirnya saya berpenghasilan juga. Kemudian sesaat saja hari itu jadi begitu terang-benderang, aih… ada banyak hal yang bisa saya eksekusi dengan uang. Hiks, minimal bisa makan daging nanti malam, atau sekedar beli susu strawberry di Indomaret. Rasanya bahagia teman…, Jadi apa ya. Biarkanlah saya menikmati euforia dari memiliki uang, dan semoga suatu hari nanti saya akan pelan-pelan ber-proses kembali tidak memikirkan uang, sebab uang tidak lagi saya cari, tapi saya yang dicari uang. Baiklah, selamat masuk ke dunia karir dunk.., dan betapa beruntungnya diri ini rasanya. Karir saya adalah belajar (membaca dan menulis) Alhamdulillah, trimakasih Rabb 🙂

Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan. Dan semoga penghasilan ini dapat memberi manfaat lebih untuk alam dan sekitarnya. amin 🙂

IMG-20140527-WA0017